Puluhan Hektare Sawah di Kabupaten Tulungagung Terancam Gagal Panen, Selain Kamarau Ini Penyebabnya

Puluhan Hektare Sawah di Kabupaten Tulungagung Terancam Gagal Panen, Selain Kamarau Ini Penyebabnya

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Memasuki masa kemarau panjang tahun 2023, puluhan hektare sawah atau lahan pertanian padi di Kabupaten Tulungagung mengalami gagal panen (Puso).

kekhawatiran petani akan gagal panen atau puso, selain karena kekeringan, diketahui sistem irigasi beberapa sawah di Tulungagung juga buruk mengakibatkan sawah kesulitan suplai air.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung, Gatot Rahayu mengatakan, berdasarkan datanya, sampai saat ini ada sebanyak 44 hektare sawah padi di Tulungagung yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen imbas dari masuknya musim kemarau panjang.

Read More

Puluhan hektare lahan padi tersebut tersebar pada 14 desa dari tiga kecamatan di Kabupaten Tulungagung yang mana sudah sebulan lebih terjadi kekeringan.

Diketahui, tiga kecamatan yang ditemukan kasus kekeringan pada lahan sawah padi itu terjadi di Kecamatan Bandung, Pakel dan Kecamatan Tanggunggunung.

“Jadi 44 hektare lahan sawah tanaman padi pada tiga kecamatan itu mengalami puso atau gagal panen,” kata Gatot Rahayu, Senin (9/10/2023).

Penyebab pusonya puluhan hektare sawah itu, jelas Gatot, dikarenakan kurangnya suplai air saat memasuki musim kemarau panjang. Ditambah lagi, usia tanaman padi di puluhan hektare lahan itu masih relatif muda, sehingga tanaman rawan mati apabila tidak ada suplai air.

Meski kondisi alam mempengaruhi tanaman padi, namun pihaknya mengakui sistem irigasi pada beberapa sawah di Tulungagung yang terbilang buruk. Padahal, sistem irigasi sangat penting demi keberlangsungan tanaman pada lahan sawah di Tulungagung.

“Dari puluhan hektare lahan tanaman padi yang puso itu kondisi sistem irigasinya jelek, jadi air dari sungai tidak bisa mengalir secara maksimal tanpa bantuan pompa. Biarpun pakai pompa, biayanya juga mahal,” jelasnya.

Imbas puso, Gatot mengungkapkan, setidaknya setiap petani yang lahan sawahnya mengalami puso terpaksa merugi senilai Rp 10-15 juta untuk setiap hektarenya. Diketahui, biaya tersebut untuk pengadaan bibit, pupuk, bahan bakar minyak (BBM) dan tenaga perawatan lahan akibat puso.

Selain 44 hektare sawah puso, pihaknya mendapati 439 hektare lahan pertanian padi terancam gagal panen akibat musim kemarau berkepanjangan. Namun, dampaknya tidak terlalu parah lantaran sistem pengairan pada lahan sawah tersebut bagus.

“Padi itu kalau kekurangan air pasti mati, berbeda dengan palawija yang justru semakin bagus kalau kekurangan air. 44 hektare lahan tanaman padi yang puso itu diganti dengan palawija,” pungkasnya.

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *