Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Mimpi siswa SDN 2 Karangpatihan untuk mendapatkan gedung sekolah layak, belum bisa segera terwujud tahun ini. Pasalnya Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P- APBD) 2024 tidak mengalokasikan dana rehab untuk sekolah yang berada di Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo tersebut.
Baca Juga :Sering Dituduh Mencuri, Dua Warga Peterongan ini Bacok Tetangga Sendiri
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Nurhadi Hanuri mengatakan jika kebutuhan perbaikan SDN 2 Karangpatihan cukup tinggi sehingga jika dialokasikan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), tidak akan mumpuni.
“Anggarannya itu besar, karena mencakup seluruh bangunan sekolah jadi tidak mungkin masuk di P-APBD tahun ini,” ungkap Nurhadi, kepada koranmemo.com.
Baca Juga :Gondol Motor, Residivis Asal Blora Diringkus Satreskrim Polres Ponorogo, ini Modusnya
Nurhadi menambahkan, kendati belum teranggarkan dalam P-APBD tahun ini namun pihaknya berharap pada APBD tahun 2025 bisa muncul dana perbaikan SDN 2 Karangpatihan. Sebab, ia menginginkan bukan hanya sekedar dilakukan rehabilitasi saja tapi membangun total sekolah tersebut.
“Kalau bisa keseluruhan bangunan dibangun ulang, nah membangun ulang perlu ada kajian selain dana juga perlu tim ahli untuk menganalisa kondisi tanah tersebut yang kabarnya labil,” tegasnya.
Baca Juga :Diduga Korsleting, Kandang Sapi Warga Desa Susuhbango Terbakar
Diperkirakan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun ulang SDN 2 Karangpatihan Pulung, sekitar Rp 1,2 miliar hingga Rp2 miliar untuk 6 ruang kelas. Sementara jika diusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) akan sulit, lantaran jumlah murid yang tidak memenuhi syarat.
“Untuk dapat DAK minimal jumlah muridnya 60 siswa, kalau saat ini dari kelas 1 sampai 6 hanya ada 57 siswa, jadi kurang. Makanya harapannya nanti di APBD 2025,” pungkasnya.
Baca Juga :Atasi Kesulitan Air Bersih, Pemprov Jatim Salurkan Ratusan Rit Air ke Blitar
Sekadar informasi 3 ruang kelas di SDN 2 Karangpatihan Pulung terpaksa dikosongkan karena mengalami kerusakan. Akibatnya 2 kelas yakni kelas 2 dan 3 terpaksa dipindah di ruang kelas darurat yang terbuat dari kalsiboard dan asbes. Bahkan masjid di sekitar pun digunakan kelas darurat.



















