Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pelestarian ekosistem laut bertajuk Mutiara Underwater Festival dan Conservation (MUF ON) digelar Pemerintah Kabupaten Trenggalek di area Pantai Mutiara, Rabu (5/6/2024). Konservasi yang dilakukan bersama pegiat lingkungan itu menjadi ikhtiar penyelamatan krisis iklim dari Trenggalek untuk Indonesia.
“Semoga aksi kecil yang kita lakukan ini dapat menyelamatkan Indonesia, bahkan dunia dari ancaman krisis yang semakin ekstrem dari hari ke hari,” kata Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat membuka kegiatan MUF ON.
Krisis iklim yang saban harinya semakin parah itu, lanjut Mas Ipin, sapaan akrabnya memberikan dampak yang tidak bisa diremehkan.
Mulai dari dampak bencana alam yang berpotensi menelan korban jiwa, krisis pangan, serta menurunnya sumber daya energi yang berpotensi memicu perang hingga terjadinya wabah.
“Saya mengajak cita-cita kemerdekaan, kalau dulu kita bertaruh nyawa memperjuangkan kemerdekaan berperang, tapi sekarang melawan krisis iklim dan perubahan iklim,” imbuhnya.
Dalam kegiatan itu, Mas Ipin bersama komunitas pegiat alam melakukan transplantasi terumbu karang lewat metode bioreeftek.
Puluhan terumbu karang dari tempurung kelapa yang dinamai ‘bioreeftek cinta’ itu ditenggelamkan di area Karang Tresno, titik yang jadi konsentrasi terumbu karang di Pantai Mutiara.
“Jadi kita pakai varietas lokal, tidak ambil dari luar. Termasuk pembudidayaan lobster dan rumput laut yang menjadi satu rangkaian. Untuk lokasinya ada di beberapa titik, di Mutiara hingga karang depan Pantai Damas itu,” ujarnya.
Aksi konservasi yang dilakukan berkesinambungan itu, kata Mas Ipin, mulai membuahkan hasil. Terumbu karang buatan itu kini menjadi rumah ikan, mulai dari ikan nemo hingga ragam hewan laut (anemon) lainnya. Padahal dulunya ekosistem di Mutiara rusak akibat aktivitas perburuan hewan laut secara besar-besaran.
“Dulunya terumbu karang ini korban bombing, potas untuk perburuan lobster hingga ikan hias yang diperjualbelikan. Kenapa pasir di sini terlihat putih karena adanya serpihan karang yang sudah mati dan terbawa ke daratan. Jadi bleaching, perubahan suhu laut, peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim,” jelasnya.
Untuk menanggulangi dampak yang semakin parah itu, Mas Ipin mencetuskan MUF ON yang rutin digelar saban tahun. Selain untuk pelestarian ekosistem laut untuk mendukung blue ekonomi, kegiatan itu sekaligus untuk menggairahkan sektor pariwisata lewat pesona alamnya.
“Kita lakukan regeneratif ekosistem, jangan destruktif,” pungkasnya.
Untuk diketahui, kegiatan MUF ON dalam rangka Hari Lingkungan Hidup, Hari Laut Sedunia hingga Hari Ulang Tahun APKASI ke 24 itu menjadi spesial. Selain dihadiri oleh pegiat alam lintas daerah, MUF ON 2024 itu juga diikuti 15 finalis Putri Otonomi Indonesia.
Dalam kesempatan itu, istri bupati Trenggalek, Novita Hardini mengapresiasi antusiasme masyarakat yang berbondong-bondong ikut andil dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya kesadaran bersama dalam menjaga alam itu menjadi ihwal baik untuk mewujudkan cita-cita Trenggalek. Salah satunya adalah menyuburkan investasi.
“Ini sangat menginspirasi dan bisa menjadi teladan bagi kabupaten lain. Tentunya dengan alam yang lestari juga bisa menjadi daya tarik investor untuk berinvestasi yang muaranya juga berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















