Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Bekas Pasar Lanang yang sebelumnya akan dimanfaatkan sebagai pusat lokasi ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Ponorogo dipastikan batal. Batalnya lokasi yang berada di pusat kota tersebut karena dianggap kurang representatif.
Sebagai gantinya, Pemkab Ponorogo akan membangun pusat ekraf di Bumi Reyog tersebut di kawasan Stadion Bathoro Katong. Lebih tepatnya di barat stadion atau kawasan pedagang kaki lima (PKL).
Sejumlah pertimbangan dipindahnya lokasi gedung ekraf yang bersumber dari bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut salah satunya yakni lokasi yang tepat di persimpangan di jalan HOS Cokroaminoto. Dikhawatirkan nantinya akan menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi gedung ekraf.
“Dikhawatirkan nanti ketika bangunan sudah jadi lalu ada kegiatan budaya akan mengganggu arus lalu lintas di sekitar kawasan tersebut, apalagi saat ini sudah padat kendaraan,” ungkap Kepala Disbudparpora, Kabupaten Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi.
Judha menambahkan, pemilihan lokasi baru yang berada di Jalan Pramuka tersebut sudah melalui pertimbangan dan hasil rapat dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Disperdakum hingga pedagang lama yang nanti akan direlokasi.
“Kemarin dari hasil rapat pedagang di lokasi lama akan dipindahkan ke tempat baru, di sebelah timur GOR Singodimedjo, pasnya di taman Kelono Sewandono,” imbuhnya.
Ia menambahkan jika hasil rapat tersebut para pedagang setuju untuk dilakukan relokasi ketempat yang baru untuk digunakan sebagai pusat ekonomi kreatif. Akan tetapi untuk mekanisme pemindahan PKL merupakan ranah dari Disperdakum dan DLH sebagai pemilik lahan taman Kelono Sewandono.
“Seperti apa nanti itu di Disperdakum dan DLH, tapi konsepnya kami minta yang menarik dan tematik, agar menambah daya tarik,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Pemkab Ponorogo mendapatkan kucuran dana segar senilai Rp 1,4 miliar dari Kemenparekraf. Dana tersebut merupakan dana apresiasi setelah Ponorogo masuk dalam jaringan kota kreatif di Indonesia.
Reporter : Sony Dwi Prastyo
Editor : Gimo Hadiwibowo



















