Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Masyarakat Bumi Menak Sopal dihimbau untuk waspada terhadap cuaca ekstrem dampak peralihan musim.
Sebab, cuaca ekstrem masa pancaroba itu berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang menjadi ancaman dan kerap terjadi di Kabupaten Trenggalek.
“Untuk itu, kami himbau kepada masyarakat untuk selalu waspada. Saat ini sebagian besar wilayah Jatim berada pada masa pancaroba dan sebagian wilayah sudah memasuki awal musim hujan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Triadi Admono, Rabu (29/11).
Merujuk prakiraan cuaca BKMG Stasiun Klimatologi Kelas I Juanda, cuaca ekstrem itu diperkirakan terjadi rentang waktu 25 November hingga 2 Desember. Berdasarkan analisis udara atas wilayah Jatim, menunjukkan kondisi atmosfer yang labil dan cukup basah. Selain itu, pada 25 November – 2 Desember, diperkirakan terdapat gangguan atmosfer yang melintasi wilayah Jatim secara bergantian.
“Yaitu Madden Julian Oscillation atau MJO, kemudian Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin. Kondisi ini menyebabkan adanya peningkatan pertumbuhan awan cumulonimbus yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem di wilayah Jatim,” imbuhnya.
Cuaca ekstrem itulah yang memicu dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Merujuk kejadian terdekat, banjir bandang terjadi pada 18 Oktober tahun lalu dan melanda 30 desa di lima kecamatan. Selain itu, dampak bencana hidrometeorologi itu juga menyebabkan 65 lokasi longsor di 23 desa dari 8 kecamatan.
Jika merujuk jumlah wilayah terdampak, bencana itu menjadi yang terparah kurun waktu beberapa tahun terakhir. Sebab, banyak rumah warga hingga infrastruktur seperti misalnya jembatan mengalami kerusakan parah. Merujuk debit air yang dialirkan ke laut selatan melalui terowongan PLTA Niyama, banjir pada 18 Oktober 2022 menjadi yang terbesar ke tiga setelah tahun 90 an dan 2006.
“Ini menjadi yang terparah dalam beberapa tahun terakhir atau terparah ke tiga setelah bencana beberapa tahun sebelumnya,” ujarnya.
Untuk itu, selain kesiapsiagaan masyarakat, pihaknya juga telah melakukan upaya mitigasi bencana lainnya. Seperti misalnya memperbanyak jumlah desa tangguh bencana hingga perbaikan – perbaikan sejumlah infrastruktur. Termasuk optimalisasi fungsi alat-alat deteksi dini bencana seperti early warning system yang terpasang di sejumlah titik bencana banjir dan longsor.
“Kita pastikan semuanya berfungsi dengan normal,” jelasnya.
Secara umum awal musim hujan di Bumi Menak Sopal diperkirakan terjadi pada November. Namun terdapat beberapa wilayah di Trenggalek yang masuk pada Desember. Terdapat 74 Zona Musim (ZOM) di Jatim. Sebanyak 32 ZOM atau 43,2 persen memasuki hujan pada November, 55,4 persen atau 41 ZOM pada Desember dan 1,4 persen atau satu ZOM pada Januari.
“Beberapa wilayah di Kabupaten Trenggalek ada yang November. Seperti Kecamatan Durenan, Gandusari, Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek dan Tugu pada November II tanggal 11-20 dan November III tanggal 21-30. Untuk wilayah lainnya masuk di Desember I (tanggal 1-10) dan Desember II (tanggal 11-20),” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor ;



















