Kediri, SEJAHTERA.CO – Suasana malam hari memancar dinginnya Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Meski sudah petang sejumlah Prajurit TNI berpakaian dinas dan kopyah di kepala masih menjalankan tugas mengabdi di masyarakat
Baca Juga :Sepuluh Bulan, Penumpang KA dari Stasiun Blitar Naik 13 Persen
Malam itu, Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-122 Kodim 0809 ini rupanya mengajar mengaji kepada anak-anak usai salat Isyak, Selasa (22/10/2024).
Tak jauh dari tempat itu, ada ibu-ibu tampak duduk lesehan dengan santai untuk mengamati kegiatan tersebut.
Terlihat jelas raut kebahagiaannya di wajah ibu-ibu dan senyumnya terus mengembang melihat anaknya mengaji bersama Prajurit TNI.
Kebiasaan yang luar biasa itu didakwahkan Letda Marinir Mohamad Sofi bersama prajurit TNI lainnya. Anak-anak yang mengaji ini sangat antusias mengikuti dan mendengar sang guru berseragam loreng tersebut.
Baca Juga :Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional, ini Lahan untuk Tanam Jagung yang Dibuka Polres Nganjuk
Anak-anak yang duduk lesehan itu berlomba-lomba mengacungkan jari tangannya untuk menjawab pertanyaan dari Prajurit TNI tersebut.
“Saya pak mau menjawab,” ucap Alika sembari mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan Prajurit TNI tentang tulisan huruf arab di papan belajar musala.
Lantas, pandangan TNI yang menjadi guru tersebut mengarah kepada Alika yang ingin menjawab pertanyaannya.
Baca Juga :Tangkap Pelaku Penganiayaan di Ngronggot, Ini yang Diamankan Polres Nganjuk
Kehadiran prajurit TNI dinilai sangat membantu masyarakat sekitar. Hal itu disampaikan Supriyadi, Kepala Desa Pagung. Dia merasa terkejut karena masih menyempatkan waktunya mengajar anak-anak sekolah dan mengaji pada malam hari.
Padahal, mereka seharusnya beristirahat karena padatnya kegiatan TMMD mulai pagi sampai sore hari bekerja membantu masyarakat membangun rumah tidak layak huni, jalan tembus, pengeboran air bersih, dan sebagainya.
“Rasanya terharu sekali melihat beliau (Prajurit TNI) memilih bertemu dengan masyarakat daripada istirahat,” katanya sambil mengucapkan terima kasih kepada Prajurit TNI.
Baca Juga :Sebanyak 30 Perlintasan KA Belum Berpalang Pintu, Ini Penjelasan Dishub Kabupaten Blitar
Bagi Supriyadi, apa yang dilakukan prajurit TNI tersebut jarang ditemui khususnya di desanya. Ia mengaku senang lantaran membawa dampak baik dan luar biasa bagi warganya.
Bahkan, warganya merasa seperti kehilangan keluarga ketika tentara tersebut selesai menjalankan program TMMD dalam kurun waktu satu bulan.
“Tentunya kami sangat berterima kasih banyak kepada Prajurit TNI. Kami dan masyarakat ingin desa ini mandiri dan maju sehingga pembangunan program TMMD benar-benar bermanfaat,” ucapnya.
Baca Juga :Belasan Orang Kehilangan Nyawa Akibat HIV-AIDS, Ini Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar
Antusias warga setempat pun dirasakan salah satu Prajurit TNI, Letda Marinir Mohamad Sofi menyempatkan waktunya mengajar anak-anak mengaji di Lereng Gunung Wilis tersebut. Dia memiliki keinginan untuk mendidik masyarakat setempat agar anak-anak rajin belajar demi kemajuan bangsa.
“Mungkin beda rasanya kalau tugas di tempat lain. Di sini bisa dekat masyarakat sekaligus bersilaturahmi,” jelasnya.
Menjalankan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) bukanlah pertama kali dirasakan prajurit asal Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang itu.
Baca Juga :Dituding Tak Profesional Tangani Pelaporan, Komisioner Bawaslu Kota Blitar Diadukan ke DKPP
Dia pernah ikut serta di TMMD pada 1995 silam. Baginya, memberikan ilmu kepada anak-anak ini merupakan pengalaman berharga karena Sofi juga bisa mengenalkan tugas TNI dalam menjaga NKRI.
“Tidak hanya mengaji, kami dan prajurit lain mengajar anak-anak Taman Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA),” ujar anak keempat dari empat bersaudara ini.
Prajurit kelahiran 1971 silam itu memilih menularkan ilmunya kepada anak-anak dari pada beristirahat usai menjalankan program pembangunan fisik TMMD mulai pagi hingga sore hari.
Baca Juga :Lahan Kosong 1,5 Hektar di Trenggalek Dijadikan Perkebunan dan Perikanan
Sofi mempunyai prinsip untuk mendekatkan diri dan berkenalan dengan masyarakat sekitar. Dia ingin ada kenangan tersendiri untuk masyarakat ketika TMMD di Desa Pagung, Kecamatan Semen sudah berakhir di akhir bulan Oktober 2024.
“Ada hal yang bikin saya betah di sini yaitu masyarakat bisa menerima kehadiran prajurit TNI. Itu hal yang sangat luar biasa,” tuturnya.
Di samping itu, ada hal yang membuat dirinya menahan rasa rindu selama menjalankan tugasnya di TMMD ke-122. Sofi harus rela meninggalkan keluarga tercinta dan menunda pulang ke rumahnya di Kabupaten Malang. Akan tetapi, satu bulan bertugas di Lereng Gunung Wilis tersebut merupakan waktu yang singkat.
Baca Juga :Bawaslu Lantik 1.942 Pengawas TPS untuk Kawal Pilkada Jombang 2024
Bila dibandingkan dengan tugas dari kesatuan, Sofi bisa ditugaskan waktu 8 hingga 10 bulan. Setelah TMMD berakhir, dia berterima kasih kepada mereka yang sudah membantu dengan ikhlas. Ia berharap agar desa di lereng Gunung Wilis ini bisa terus maju ketika ditinggal Prajurit TNI.
“Di sini masyarakat baik semuanya. Mereka sangat senang dibantu TNI karena hal itu jarang terjadi di daerah sini,” tutur Sofi.
Terlepas hal itu, dia harus rela meninggalkan keluarga selama menjalankan tugasnya di sini.
Baca Juga :Transformasi Digital, Capaian IKD di Ponorogo Baru 6 Persen
Meski tidak bertemu keluarga, prajurit berdinas di Batalyon Zeni-2 Marinir (Yon Zeni 2/Marinir) ini bisa meluapkan perasaan kerinduan istri dan anak dengan berkomunikasi lewat ponsel. Komunikasi melalui dan video call biasanya dilakukan saat malam hari atau waktu senggang.
“Kalau dibilang rindu pasti rindu. Ini kan sudah tugas saya sebagai prajurit TNI, jadi sudah anggap hal biasa meninggalkan keluarga,” pungkasnya sembari mengingat pesan-pesan keluarga.



















