Para pelaku memiliki anak buah dari berbagai daerah, mulai Kediri hingga Jombang dan Blitar. “Pengakuannya sudah lama menjalankan bisnis. Belum setahun,” jelasnya.
Soal tarif juga murah. Untuk sekali esek-esek hanya dipatok Rp 300 ribu tanpa harus memikirkan hotel .
Sementara dalam sehari, perempuan penjaja seks komersial (PSK) itu bisa melayani sampai 5 pria hidung belang. Dari hasil itu muncikari dan operator bisa mengeruk keuntungan.
PSK yang juga korban mendapatkan gaji sesuai perjanjian Rp 8 juta sementara operator mendapat Rp 60 ribu untuk satu transaksi. Muncikari mendapatkan sisanya.
“Baru beberapa bulan. Saya juga diajak suami,” kata SAD, yang juga penyanyi ini.
Selain lima tersangka yang salah satunya pasutri, polisi juga mengungkap kasus serupa. Penggerebekan dilakukan di salah satu hotel di Jalan M. Hatta, Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul pada 20 Maret lalu.
Dua tersangka itu adalah AD perempuan (24) warga Lebak, Provinsi Banten dan TW pria (20) warga Desa Semen, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.
Sementara perempuan yang dijajakan adalah SA (15),warga Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Dalam menjalankan bisnisnya AD dan TW menawarkan SA melalui aplikasi kencan. Sepakat korban pun ke Blitar dengan biaya transportasi ditanggung AD.
Untuk satu kali kencan rata-rata Rp 300 ribu. Dari hasil itu mendapatkan uang Rp 2,3 juta dan dibagi muncikari, PSK dan operator. “Ditangkap di hotel ketika melayani pelanggan,” kata wakapolres.
AD dan TW sendiri sebelumnya sudah malang melintang di dunia esek-esek. Wilayah utamanya di Kediri. Tetapi karena saat itu sepi, akhirnya geser ke Kota Blitar. Polisi menyita uang, Iphone dan lain sebagainya.
Reporter : Abdul Aziz Wahyudi
Editor : Gimo Hadiwibowo



















