Diduga Langgar Netralitas Pemilu 2024, Enam Orang Termasuk Kades Diperiksa Bawaslu Tulungagung

Diduga Langgar Netralitas Pemilu 2024, Enam Orang Termasuk Kades Diperiksa Bawaslu Tulungagung

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Kepala Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung dipanggil oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Tulungagung, Senin (12/2/2024).

Pemanggilan itu berkaitan dengan dugaan pelanggaran netralitas Pemilu 2024 atas beredarnya video kades tersebut tengah mengenakan kaos salah satu paslon.

Komisioner Bawaslu Tulungagung, Muh Syafiq mengatakan, Minggu (11/2/2024) sampai dengan Senin (12/2/2024) pihaknya total sudah memanggil sebanyak enam orang yang terlibat dalam video tersebut. Diketahui, enam orang tersebut terdiri dari lima orang saksi dan satu orang kades.

Read More

Pemanggilan enam orang yang terkait dalam video tersebut ditujukan untuk memintai klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait terutamanya kades tersebut. Mengingat hal ini berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran netralitas Pemilu 2024 yang dilakukan oleh kades tersebut.

“Selama dua hari ini sudah kami panggil sebanyak enam orang yang terkait di dalam video tersebut dimana salah satunya merupakan kades itu,” kata Muh Syafiq, Senin (12/2/2024).

Setelah memintai klarifikasi pihak-pihak terkait, ungkap Syafiq, pihaknya saat ini masih belum bisa menarik kesimpulan apakah video tersebut bisa menjadi bukti pelanggaran netralitas pemilu yang dilakukan oleh kades tersebut. Itu karena pihaknya masih harus melakukan kajian dan diputuskan dalam rapat pleno.

Menurut Syafiq, selama proses penyelidikan dan proses kajian ini perlu waktu selama 14 hari kerja sebelum nantinya diputuskan jenis pelanggaran yang dilakukan kades itu. Namun, jika terbukti adanya pelanggaran pidana, maka proses akan dilanjutkan pada tahap penyidikan dan dilimpahkan ke Polisi dan Kejaksaan.

“Kalau memang terbukti adanya pelanggaran pidana, kades tersebut juga terancam hukuman penjara satu tahun dan denda Rp 12 Juta,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, salah satu saksi yang diperiksa yakni TG mengatakan, sebenarnya saat itu tidak ada agenda kampanye sama sekali. Hanya saja, pihaknya memiliki sisa baju paslon yang dibelanya dan dibawa ke warkop tersebut untuk diletakkan di sana.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba banyak warga yang berkunjung ke warkop tersebut dan salah satunya terdapat kades yang juga bergabung. Menurutnya saat itu, semuanya berbicara masalah tanaman lantaran yang berkumpul kebanyakan petani.

“Di kantor saya banyak sisa baju, awalnya cuma mau saya bawa dan diletakkan di warkop itu. Tiba-tiba banyak warga yang ke sana dan mengambil kaos itu,” kata TG.

Sedangkan soal yel-yel paslon yang dinyanyikan bersama kades tersebut, TG mengaku jika itu spontanitas dan tanpa disengaja. Dia mengaku lupa jika di sana terdapat kades, tapi karena asyik dengan euforia yang ada, dinyanyikanlah yel-yel itu.

TG memastikan jika kades tersebut juga tidak ikut menyanyikan yel-yel bersama warga yang ada di warkop tersebut. “Cuma kami yang menyanyikan yel-yel itu, dia (Kades) tidak dan hanya duduk diam saja,” tutupnya.

Sementara itu, Kades Kradinan, Eko Sujarwo mengaku, dirinya ada dalam video yang beredar tersebut dan tengah mengenakan kaos salah satu paslon. Namun, pihaknya menyangkal adanya pelanggaran netralitas dan hanya bentuk spontanitas, karena saat itu dia hanya mampir di warung kopi langganannya.

Pada saat itu, tanpa sengaja di sana juga ada mantan seniornya saat bekerja di Dinas Pertanian Tulungagung beberapa tahun silam, sehingga pihaknya menghormati seniornya itu dan mengenakan kaos tersebut. Namun, Eko hanya memakai kaos itu selama lima menit dan kemudian melepasnya.

“Saya memang langganan ngopi di sana, jadi bisa bertemu warga dan mendengar keluh kesahnya. Tapi saat itu ada mantan senior saya dan saya dipanggil untuk bergabung, sehingga saya menghormati beliau,” kata Eko Sujarwo.

Disinggung soal penggalangan suara pemenangan salah satu paslon, Eko menyebut, tidak melakukan upaya itu dan hanya berniat untuk ngopi saja. Dia paham betul jika perangkat desa tidak boleh memihak salah satu paslon presiden dan wakil presiden untuk memenangkan salah satu paslon.

Maka dari itu, selama dimintai klarifikasi oleh pihak Bawaslu Tulungagung, dia terus menerus menegaskan jika dirinya netral dan tidak memihak kubu manapun. Terlebih dalam video tersebut, pihaknya juga hanya menunduk saat para pengunjung di warkop itu meneriakkan yel-yel pemenangan paslon tersebut.

“Bisa dilihat di videonya, saya cuma menunduk saat mereka bersorak sorai untuk kemenangan paslon yang dibelanya. Jadi memang tidak ada unsur kesengajaan dan saya memakai baju itupun murni spontanitas,” ujarnya.

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *