Kediri, SEJAHTERA.CO – Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia (Gasmi) di Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri mengeluhkan sulitnya mendapat izin penyelenggaraan pencak dor.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, mereka kesulitan untuk menggelar tradisi bela diri yang populer mulai tahun 1960an tersebut.
Yanto, Tokoh pencak dor atau guru Gasmi Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih mengaku, sejak Pandemi Covid-19 hingga saat ini, izin pencak dor dinilai cukup sulit sehingga pertunjukan seni bela diri itu sudah lama vakum, padahal dulunya rutin digelar.
Selain perizinan, dirinya juga mengeluhkan jika kegiatan seni bela diri ini tak ada dukungan serius dari pemerintah daerah.
Baca Juga :Merasahkan Masyarakat, Satreskoba Gelar Razia dan Amankan 27 Miras Disejumlah Warkop
“Selama ini terkendala izin. Mulai corona sampai hari ini memang sulit,” keluhnya kepada Deny Widyanarko, saat Calon Bupati Kediri nomor urut 1 itu mengunjungi rumahnya, Rabu (23/10/2024).
Mbah Yanto, sapaan akrabnya berharap adanya kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Kediri. Selain izin, tentunya dukungan materil sangat dibutuhkan untuk terus melestarikan budaya bela diri pesantren yang mengedepankan persaudaraan tersebut. Apalagi, peminatnya Gasmi dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat.
Baca Juga :Arena Judi Sabung Ayam Digerebek Polsek Bagor, ini Barang Bukti yang Disita
“Selama ini kan kalau kita mengadakan even pencak dor bukan biaya kecil, tanpa suplai dari pemimpin juga beda. Dananya dari kita sendiri dan donatur,” ucapnya.
“Harapan kita kalau memang pak Deny bisa memimpin, khususnya event Pencak Dor diharapkan izinnya tidak dipersulit, dan kalau bisa kita minta bantuan anggaran ntah itu dari KONI atau apa. Mengingat selama ini tidak ada suport dari pemerintah,” ucap Mbah Yanto.
Baca Juga :Rangsang Mau Vasektomi, DP3AP2KB Kota Blitar Beri Kompensasi Rp 12 Juta
Sejauh ini Gasmi di Badal Ngadiluwih, telah melahirkan ribuan pendekar. Mereka hampir setiap berlatih b la diri. Bukan sekadar mengajarkan jurus-jurus silat, Gasmi juga mengedepankan akhlak dan moral.
Sementara itu Deny Widyanarko berjanji, nantinya akan mempermudah izin pencak dor yang sudah menjadi favoritnya sejak lama. Bagi putra daerah asli Plosoklaten Kediri itu, pencak dor memiliki keistimewaan yakni tidak ada yang menang dan kalah, melainkan semua adalah saudara.
“Salah satu tontonan kesukaan saya itu melihat Pencak Dor, jadi ini merupakan tradisi budaya yang menurut saya harus dilestarikan. Itu adalah komitmen saya ke depan,” jelasnya.
Baca Juga :Ayo Sukseskan Pilkada ! Polres Trenggalek Siapkan Hadiah Motor hingga Sepeda Gunung bagi Pemilih
Bukan hanya pencak dor saja, Deny banyak mendengar para seniman di Kabupaten Kediri kesulitan mendapatkan izin. Padahal pertunjukan-pertunjukan tersebut memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan UMKM di Bumi Panjalu.
Dengan adanya pentas-pentas itu, sehingga banyak celah yang bisa memberikan manfaat positif kepada masyarakat.
“Kita bisa mengaktualisasikan kemampuan yang selama ini mereka latih, menguri-uri warisan budaya leluhur, serta dengan adanya pertunjukan yang ada ini bisa menghidupkan UMKM di Kabupaten Kediri,” bebernya
Baca Juga :BMKG Prediksi Musim Hujan di Trenggalek, BPBD Ingatkan soal Potensi Bencana Hidrometeorologi
Pihaknya juga akan mengajak stakeholder terkait ke depan untuk duduk bersama berdiskusi ataupun musyawarah. Sedangkan, urusan keamanan nantinya akan meminta komitmen terhadap penyelenggara agar benar-benar bisa menjaga keamanan dan ketertiban.
“Jadi itu kenapa kok tidak boleh, itu semua stake holder harus duduk bersama kita ajak musyawarah diskusi. Karena bagaimanapun namanya pertunjukan aman tertib itu harus hal yang utama. Kalau mereka bisa menjaga ketertiban kenapa tidak,” ungkap Deny Widyanarko.



















