Ketua RT: Suami Cemburuan dan Pendiam

Ketua RT: Suami Cemburuan dan Pendiam

Blitar, SEJAHTERA.CO – Polisi bergerak cepat, begitu ada dugaan pembunuhan Sri Juanah (71), warga Dusun Talok, Desa Pojok, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Sejumlah saksi dimintai keterangan dan dugaan mengarah ke suami korban, berinisial SN. Tengara itu menguat pasalnya sesaat setelah ditemukan tak berada di rumah.

Polisi mendatangi rumah korban sudah dalam keadaan kosong. Sumber di kepolisian menyebutkan suami korban diamankan ke Polres  Blitar untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Read More

“Kasusnya ditangani Satreskrim Polres Blitar langsung. Monggo konfirm selanjutnya,” kata Kapolsek Garum, Iptu Punjung Setyo.

Kasat Reskrim Polres Blitar, AKP Febby Pahlevi Rizal sudah menindaklanjuti kasus itu. Pihaknya juga sudah meminta keterangan sejumlah saksi.

“Masih dalam proses rekan2. Berkenan rekan2 media bisa di up berita kejadian. Insyaallah besok atau lusa sudah ada kabar baik,” katanya.

Sementara itu Ketua RT 1 RW 3  Dusun Talok, Desa Pojok, Kecamatan Garum, Wardoyo mengakui warganya meninggal diduga karena dibunuh.

Berawal ketika saksi ke sawah dan mendapati sesosok manusia tengkurap di sungai. “Saya pagi dilapori langsung ke perangkat desa dan melapor ke polisi,” katanya.

Dia mengatakan, SN dan korban tinggal berdua di rumah. Sri Juanah asli Garum sementara SN asli Kota Blitar.

Setiap hari korban jualan toko kelontong atau barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sementara SN lebih banyak berdiam diri di rumah.

Suami istri itu dikaruniai tiga anak, dua perempuan dan satu pria. Tiga anaknya sudah tak tinggal di rumah.

Menurut keterangan tetangga tak ada tanda-tanda keributan sebelum kejadian. “Tidak ada yang dengar cek cok. Kan selama ini suaminya juga pendiam,” katanya.

Masih menurut penuturan tetangga, si suami temperamental dan pencemburu. Sikap suami itu kerap dicurhatkan ke tetangga.

“Katanya begitu, cemburuan. Bahkan kalau keluar rumah, harus  izin dulu pokoknya,” katanya lagi.

Pascakejadian, warga tetap beraktivitas biasanya. Bahkan usai divisum, korban dimakamkan di pemakaman desa setempat.

Itu setelah disemayamkan di rumah saudara tak jauh dari tempat kejadian perkara. Pasalnya rumah TKP masih digaris polisi dan dalam proses penyelidikan.(ziz)

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *