Blitar, SEJAHTERA.CO – Kasus pembunuhan dua perempuan, majikan (bos) dan pembantu pemelihara anjing di Jalan Sulawesi Kota Blitar menyisakan masalah lain. Salah satunya adalah kelangsungan sedikitnya 40 anjing peliharaan.
Seperti diketahui, dua perempuan korban dugaan pembunuhan adalah Ragil Sukarno Utomo alias Erlin dan Luciani Santoso adalah pemerhati anjing.
Setiap hari menghabiskan kegiatannya ngopeni (memelihara) anjing dari berbagai daerah. Mulai memandikan, memberi pakan, membersihkan kotoran hingga mengobati jika ada yang sakit.
Anjing-anjing itu ada dari jalanan, dibuang pemiliknya hingga dari pemilik yang kewalahan ngopeni. Saking banyaknya anjing, hampir di semua sudut selalu ada binatang berkaki empat itu.
“Sudah lama kalau soal pelihara anjing. Makanya pagarnya selalu tertutup,” kata Haris Sugianto, Ketua RT 3, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.
Dia mengatakan, sebenarnya warga sempat mengeluhkan soal shelter anjing itu. Selain menimbulkan suara gonggongan yang berisik, juga bau kotoran yang menyengat.
Apalagi, lokasi shelter berada di pinggir jalan raya dan dekat dengan perkampungan. Yang membuat tetangga geregetan, korban jarang sosialisasi dan tak melapor jika ada pekerja baru.
“Kami tidak tahu warga mana saja pekerjanya. Makanya warga juga bingung ditanya identitas korban,” katanya.
Menurutnya, di lokasi tersebut gonta-ganti pekerja. Diperkirakan sudah lima kali lebih pekerja keluar masuk. Termasuk AF, pekerja yang baru beberapa minggu kerja juga pendatang yang belakangan diketahui warga Ngadiluwih, Kediri.
Masalah saat ini, lanjutnya, yakni soal nasib peliharaan anjing. Warga tak tahu kemana harus mengadu. Bahkan tak hanya anjing, di lokasi juga ada kucing hingga monyet. Namun paling banyak anjing. Ada yang sehat ada pula yang cacat dan sakit.
Selama ini, untuk menghidupi anjing, Erlin mengandalkan donasi dari pecinta anjing. Donasi tak hanya uang, donasi juga dalam bentuk pakan.
Haris melanjutkan, infonya ada pemerhati anjing dari Bogor yang bakal ke Kota Blitar untuk mengambil alih anjing.
Warga sendiri angkat tangan jika diminta untuk ngopeni. Selain di kampung mayoritas muslim, juga tak biasa dengan anjing.
“Kabarnya memang ada yang datang untuk ambil anjing. Tetapi tak tahu kapan,” katanya.
Saat ini, dirinya dan warga sekitar hanya sekadar memberi pakan seadanya. Pakan yang diberikan adalah stok sebelum korban meninggal dalam bentuk pakan kering.
“Soalnya banyak anjingnya dan besar-besar. Warga juga takut kegigit,” katanya.
Kapolres Blitar Kota AKBP Danang Setiyo PS mengatakan permasalahan nasib anjing akan dikoordinasikan dulu. Sejauh ini polisi juga sangsi soal izin penampungan anjing.
Sementara itu, pasca penangkapan AF, polisi langsung kerja kerja keras. Polisi bakal menentukan nasib warga Ngadiluwih itu secepatnya.
Terbaru, polisi juga menemukan ponsel korban ketika AF diamankan di Ngadiluwih. Ponsel itu disimpan dalam tas. (ziz)



















